Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Artikel. Tampilkan semua postingan

Life is Too Short


Sahabat..
Hidup ini sangat singkat,
Kata pepatah jawa "urip mung mampir ngombe" hidup cuma mampir buat minum aja.

Al Quran mengatakan secara implisit bahwa satu hari diakhirat rasanya bagaikan seribu tahun di dunia. (QS 22:47, 32:5).  Bukankah ini kaidah teori relativitas?

Laron berpikir telah hidup lama, buktinya sudah mengelilingi ruangan rumah. Namun jika cicak melihatnya maka umur laron hanya semalam saja. Cicak pikir umurnya juga telah lama, namun jika dilihat oleh kucing maka umurnya sebentar saja.

Kucing pikir ia telah berumur panjang, namun apakah sama jika kuda yg melihatnya? Begitu pula kuda jika dilihat oleh manusia maka umur kuda hanya singkat saja.

Bagaimana dengan manusia? Siapa yg melihat umur manusia?
Mari kita lihat berdasarkan Al Quran sebagai sumber kebenaran absolut.

1 hari akhirat = 1000 tahun
24 jam akhirat = 1000 tahun
3 jam akhirat = 125 tahun
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun

Umur manusia rata-rata 60 - 70 tahun. Jadi hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja.
Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.... *...*
Hanya satu setengah jam saja. Menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak surga atau neraka. (QS.35:15 , 4:170).
Cuma satu setengah jam saja cobaan, maka bersabarlah (QS.74:7,52:48,39:10).
Satu setengah jam saja coba buat Allah senang dan hentikan buat setan senang. (QS.43:36).
Cuma satu setengah jam saja mencoba menahan nafsu dan ganti dgn sunnah-Nya. (QS.12:53, 33:38).
*...* SATU SETENGAH JAM...
sebuah perjuangan teramat singkat, dan Allah ganti dengan surga Ridha Allah... (QS.9:72, 98:8 ,4:114).
Selamat berjuang mengisi hari...
Mencari bekal perjalanan panjang nanti... (QS.59:18,42:20, 3:148, 28:77)

SubhanAllah.... O:)*...*({})


*Artikel kiriman Sahabat Wening Naraswari
Staf pada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara

Kisah Buntut Singkong

Alkisah, ada seorang anak kecil yang baru saja ditinggal mati oleh ayahnya. Karena tidak ada lagi yang suka memberi dia jajan, iapun diacuhkan oleh teman-temannya. Anak kecil itu berusaha untuk meminta belas kasihan kepada warung-warung tetangganya, bukannya belas kasihan yang ia dapatkan, melainkan hardikan dan usiran.
Suatu hari, bertemulah ia dengan tukang gorengan. Agar menarik perhatian, anak kecil itu bergaya. Sambil berdiri di hadapan tukang gorengan, ia angkat kaki sebelah kirinya lalu ditempelkan ke kaki kanannya, sambil menggigit jari tangan kanannya. Si tukang gorengan hanya memandang sekilas dan membiarkan saja.
Hari pertama, iapun dicuekin saja. Demikian pula hari kedua dan ketiga. Namun, anak kecil itu tidak putus asa, tetap dengan gaya yang sama. Akhirnya pada hari keempat, karena merasa iba dan kasihan, si tukang gorengan itupun memberikan buntut singkong, sisa-sisa potongan gorengan singkong, yang rasanyapun pahit.
Betapa senangnya anak kecil itu. Dengan mata berbinar penuh bahagia, iapun memegang buntut singkong itu dengan kedua tangannya, seolah-olah terlihat seperti satu singkong goreng penuh. Ia berlari mengejar teman-temannya, sambil mengacung-ngacungkan buntut singkong, menunjukkan bahwa ia kini punya jajanan.

24 tahun kemudian
Suatu hari, ketika sedang asyik ngaduk-ngaduk gorengannya, tiba-tiba si tukang gorengan itu didatangi oleh seorang pemuda.
“Emm... ternyata tidak ada yang berubah. Pikulan dan gerobak gorengannya, masih seperti dulu,” gumam pemuda itu.
“Mang, masih kenal sama Saya ga?!” tanya pemuda itu.
Si tukang gorengan hanya menggeleng bengong dan bingung.
“Coba ingat-ingat Mang. Masih ingat Saya ga?!” kata pemuda itu penasaran. “Aduh, siapa ya Den! Amang mah, gak tahu.” Jawab tukang gorengan itu polos.
Akhirnya, pemuda itupun bergaya persis seperti saat dia meminta dikasihani tukang gorengan.
“Oh. Iya...ya... Amang ingat sekarang. Aden yang waktu itu, masih kecil, bergaya seperti itu di depan Amang, selama empat hari berturut-turut. Awalnya Amang cuekin. Karena Amang kasihan, akhirnya Amang kasih buntut singkong.” Jawab tukang gorengan itu.
“Ya betul, Mang. Waktu itu, Saya sungguh senang dan bahagia sekali. Dengan buntut singkong itu, akhirnya Saya diterima lagi oleh teman-teman Saya.” Jawab pemuda itu. “Karena hanya yang punya jajanan saja yang boleh bergabung dan bermain dengan teman-teman Saya.” Lanjutnya.
“Wah, Den. Gak usah disebut-sebut. Amang jadi malu. Karena hanya memberi Aden buntut singkong.” Jawab tukang gorengan itu tersipu.
“Sebagai rasa terima kasih Saya atas kebaikan Amang. Bagaimana kalau Amang Saya ajak umroh!”.
“Hah... yang bener Den. Jangan main-main?!” Ujar tukang gorengan itu kaget.
“Iya Mang. Saya serius. Saya ajak Amang untuk umroh ke tanah suci.” Jawab pemuda itu meyakinkan.
Tak kuasa menahan haru, sambil berlinang air mata, dipeluknya erat-erat pemuda itu. Sambil berkata, “terima kasih Den! ...terima kasih ...”
“Berterima kasihlah kepada Allah, Mang…. Allah menakdirkan Saya, untuk membalas kebaikan yang telah Amang lakukan 24 tahun yang lalu.” Jawab pemuda itu, sambil memeluk erat tukang gorengan itu penuh haru.

Janji Allah Pasti
Subhanallah … Allahu Akbar ... There’s not impossible in the world. Sungguh kisah kemanusiaan yang sangat menyentuh. Ternyata Allah SWT tidak akan membiarkan berlalu begitu saja, kebaikan yang telah dilakukan oleh hamba-hamba-Nya, siapapun dan di manapun, sekecil dan sesederhana apapun. Melainkan Ia akan membalasnya dengan yang setimpal, bahkan berlipat, berganda dan tak terduga. Benarlah Firman Allah SWT dalam Qs. Al Zalzalah: 7-8
  • Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat balasannya.
  • Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat balasannya pula.


Copas dari http://tarbiyatunnisaa.blogspot.com/2010/01/kisah-buntut-singkong_21.html 

A Smile


A smile cost nothing, but gives much. It enriches those who receive, without making poorer who give. It takes but a moment, but the memory of it sometimes last forever. None is so rich or mighty that he can get along without it and none is so poor but that he can be made be rich by it.
A smile creates happiness in the home, fosters good will in business and counter sign of friendship. It brings rest to the weary, cheer to the discouraged, sunshine  to the sad and it isnature’s best antidode for trouble.
Yet it can not be bought, begged, borrowed, or stolen, for it something that is of no value to anyone until it is given away.
Some people are too tired to give you a smile. Give them one of yours, as noneneeds a smile so much as he who has no more to give.

Smile For Everyone
Bukan karena hidup bahagia kamu tersenyum, tapi karena kamu tersenyum, maka menjadi bahagia…
Bukan karena semua orang bersahabat maka kamu tersenyum, tapi karena kamu tersenyum, semua orang menjadi bersahabat…
Bukan karena pekerjaan menyenangkan maka kamu tersenyum, tetapi karena kamu tersenyum, pekerjaan jadi menyenangkan…
Bukan karena keluarga harmonis kamu tersenyum, tetapi karena kamu tersenyum, keluarga menjadi harmonis…
Bukan dunia yang menciptakan senyum, melainkan senyuman yang menciptakan dunia…
So please don’t forget to smile…
Buku Kehidupan
Kehidupan ibarat buku sampul. Sampul depan adalah tanggal lahir. Sampul belakang adalah tanggal kematian.
Setiap lembarnya adalah perilaku dalam hidup kita dan apa yang kita kerjakan.
Ada buku yang tebal, ada buku yang tipis.
Ada buku yang menarik dibaca, ada buku yang sama sekali tidak menarik.
Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di ‘edit’ lagi.
Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya , selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya.
Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkan Nya.
… dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal-hal yang baik semata.
Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu mengadu kepadaNya, tentang apa yang harus kita tulis tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yang berkenan kepadaNya.
Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak-anak kita dan siapapun setelah kita nanti.
Selamat menulis di buku kehidupan…
Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang, serta pena kebijaksanaan.

Sumber: 30 hari mencari cinta ilahi 


artikel kiriman sahabat Leny Kartiningsih
staf Biro Perencanaan dan Keuangan 
Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan

Kisah Seorang Satpam dan Ust. Yusuf Mansyur

Satu hari saya jalan melintas di satu daerah. Tertidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya berpesan ke supir saya, “Nanti di depan ke kiri ya.”

“Masih banyak, Pak Ustad,” jawab sopir saya.Saya paham. Si sopir mengira, saya ingin membeli bensin. Padahal bukan. “Saya mau pipis,” jelas saya pada sopir. Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.

“Pak Ustadz!” panggilnya seraya melambaikan tangan dari kejauhan dan mendekati saya. Saya menghentikan langkah. Menunggu si sekuriti.“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja,” ujarnya sembari tersenyum sumringah. Saya juga tersenyum. Insya Allah, saya tidak merasa gede rasa. “Saya ke toilet dulu ya,” kata saya meminta pengertian sang sekuriti.

“Nanti saya pengen ngobrol. Boleh Ustadz?” laki-laki itu berusaha menahan langkah saya.

“Saya buru-buru, lho. Tentang apaan sih?” jawab saya sembari menatapnya  tajam. “Saya bosen jadi satpam Pak Ustad.” Sejurus kemudian saya sadar. Ini pasti Allah pasti yang memberhentikan langkah saya.

Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun karena ingin pipis, lantas sampai di sebuah pom bensin, hingga akhirnya bertemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya harus berbicara dengannya. Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Demikian saya membatin.

“Ok, nanti setelah dari toilet ya,” jawab saya pada sang satpam.

***

“Jadi, gimana? Bosen jadi satpam? Emangnya nggak gajian?” tanya saya membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada
minimart-nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan. “Gaji mah ada, Ustadz. Tapi masak gini-gini aja nasib saya?”

“Gini-gini aja itu karena ibadah Bapak juga gini-gini aja. Disetel bagaimanapun, agak susah merubahnya.”

“Wah, ustadz langsung nembak aja nih.”

Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah. Tapi umumnya begitulah manusia. Rezeki mau banyak, tapi kepada Allah tidak mau mendekat. Rezeki mau bertambah, tapi ibadah tidak mau ditambah. Dari dulu tetap begitu-begitu saja.

“Sudah shalat ashar?”

“Barusan, Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya nggak? Ya saya pikir sama saja.”

“Oh, jadi nggak apa-apa telat, ya? Karena menurut Bapak, kerja Bapak adalah juga ibadah?”

Sekuriti itu tersenyum meringis. Mungkin ia jujur mengatakan demikian. Mungkin juga tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap pekerjaannya sebagai ibadah. Namun bisa juga tidak. Anggapan pekerjaan
sebagai ibadah cuma sebatas ucapan saja. Lagi pula jika menganggap pekerjaan-pekerjaan kita adalah ibadah, maka apa yang kita lakukan di dunia ini semuanya juga ibadah kalau kita niatkan sebagai ibadah.

Tapi, hal itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajib dijadikan prioritas nomor satu. Kalau ibadah wajibnya dijadikan prioritas nomor tujuh belas, tentu adalah bohong belaka jika menganggap pekerjaan sebagai ibadah. Lantas, apakah kita tidak boleh meniatkan pekerjaan sebagai ibadah? Tentu saja boleh! Bahkan bagus sekali, bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita umpamakan demikian. Suatu saat, kita menerima tamu, kemudian Allah datang. Artinya kita menerima tamu, tepat ketika waktu shalat tiba. Kemudian kita abaikan shalat. Kita abaikan Allah. Nah, apakah demikian masih pantas pekerjaan kita disebut sebagai ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil pekerjaan dan usaha, hanya sedikit yang diberikan kepada Allah daripada untuk kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Tampaknya, kita perlu memikirkan kembali ungkapan “pekerjaan sebagai ibadah.”

Saya kembali bertanya pada si sekuriti, “Kata barusan itu maksudnya jam setengah limaan, ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini.”

“Ya, kurang lebih, deh,” ujar si sekuriti seraya tersenyum kecut. Saya masih ingat, dulu saya dikoreksi oleh seorang faqih, seorang alim, bahwa shalat itu harus tepat waktu. Di awal waktu. Bagaimana mungkin kita ingin diperhatikan oleh Sang Maha Memberi Rezeki jika shalat kita tidak tepat waktu?!

Aqimish shalaata lidzikrii. Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Menunda-nunda. Itu kan jadi sama saja dengan menunda-nunda dalam mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan sekuriti itu. Entahlah, saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.

“Gini ya, Pak. Kalau Bapak shalat asar jam setengah lima, maka Bapak jauh sekali tertinggal untuk mengejar dunia. Bapak sudah telat sejam setengah jika waktu ashar sekarang dimulai pada jam tiga kurang sedikit. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita? 5 x 1,5 jam, lalu dikalikan sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikalikan lagi sekian tahun kita telat. Itu baru soal telat saja. Belum kalau ketinggalan atau kelupaan. Lebih bahaya lagi kalau benar-benar sengaja tidak shalat! Wah, makin jauh saja mestinya kita dari senang!”

Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya katakan. Dari raut mukanya, tampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara, ya. He..¦he..he. Belagu ya saya? Masa perkataan cetek begini harus ditanyakan pada lawan bicara, paham apa tidak.

Saya juga menjelaskan pada si sekuriti. Jika dia merupakan alumni SMU yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan seangkatannya mungkin sudah banyak yang maju. Sementara dia sendiri seperti diam di tempat. Misalkan, seseorang membuka suatu usaha. Lalu ada orang lain lagi yang juga membuka usaha. Sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya. Nah, bisa jadi hal itu karena ibadah yang satu itu bagus, sedangkan yang lain tidak.

Dan saya mengingatkan kepada Anda sekalian untuk tidak menggunakan mata telanjang guna mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu rajin shalat dan banyak kebaikannya, namun hidupnya susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu-satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan
yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.

“Terus, mau berubah?” tanya saya kembali kepada si sekuriti.

“Mau, Pak Ustad! Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalau  tidak serius?”

“Ya udah, deketin Allah, deh. Ngebut ke Allah.”

“Ngebut gimana?”

“Satu: benahi shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya. Pantangan telat! Kejar rezeki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampai keduluan Allah.” Si sekuriti mengaku mengerti, maksudnya
adalah bahwa sebelum azan ia sudah siap di atas sajadah. Kita ini menginginkan rezeki dari Allah, tapi tidak berusaha mengenali Dia Yang Membagi-bagikan rezeki.

Contohnya, para pekerja di tanah air ini. Mereka bekerja supaya memperoleh gaji. Dan gaji itu merupakan rezeki. Tapi giliran Allah memanggilnya, malah perilakunya seperti tidak menghargai Allah. Padahal hakikatnya, Allah yang menjadikan seseorang bisa bekerja. Ini kan aneh. Saat menemui, penampilan rapi, wangi, dan betul-betul dipersiapkan sedemikian rupa. Namun, giliran mereka menemui Allah, pakaian mereka
sembarangan. Amit-amit. Tidak ada persiapan. Bahkan, tidak segan-segan mereka menunjukkan wajah dan fisik yang lelah. Hal itu berarti tidak mengenal Allah.

“Kedua,” saya teruskan, “keluarkan sedekahnya!”

Saya ingat betul. Sekuriti itu tertawa.

“Pak Ustadz, bagaimana saya bisa sedekah, hari ini saja belanjaan di rumah sudah habis? Saya terpaksa berhutang lagi di warung. Saya sudah mulai mengambil barang dulu, bayar belakangan.”

“Ah, Bapak saja yang barangkali kebanyakan beban. Memang gajinya  berapa?”

“Satu koma tujuh, Pak Ustadz.”

“Wuah, itu mah besar sekali. Maaf, ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang  sering sebut orang kecil, gaji segitu sudah besar.”

“Yah, kan saya harus bayar cicilan motor, kontrakan, susu anak. Bayar  ini, bayar itu. Emang nggak cukup, Pak ustadz.”

“Itu gaji bisa gede, emang sudah lama kerjanya?”

“Kerjanya sih sudah tujuh tahun. Tapi gaji gede bukan karena sudah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, Ustadz.”

“Kok bisa?”

“Ya, sebab saya tinggal di mess. Saya nggak tahu gimana boss menghitung sampai ketemu angka 1,7jt.”

“Terus, kenapa masih kurang?”

“Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak.”

“Secara matematis, lepaskan saja tanggungan yang tidak perlu, seperti motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan nggak perlu?”

“Pengen kayak orang-orang, Pak Ustadz.”

“Ya susah kalau begitu, mah. Ingin meniru orang lain hanya pada soal  motornya saja. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot!”

Sekuriti ini nyengir. Memang kalau motor ini dilepas, dia bisa menghemat 900 ribu.

Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Tidak jelas bagaimana ia menutupi kebutuhannya yang lain. Biaya kontrakan saja, termasuk air dan listrik, sudah Rp. 450 ribu. Kalau melihat keuangan model begini, tentu saja defisit terus.

“Ya sudah. Sudah terlanjur, ya. Oke, shalatnya gimana? Mau diubah?”

“Mau, Ustadz. Saya mau benahi shalat saya.”

“Bareng sama istri, ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sandal, lakukan berdua. Tambah baik kalau anak-anak juga diajak. Ajak semua anggota keluarga untuk membenahi shalat!”

“Siap, Ustad!”

“Tapi sedekahnya tetap harus dilaksanakan, lho!”

“Yah, Ustadz. Kan saya sudah bilang, tidak ada yang bisa disedekahkan!”

“Sedekahkan saja motornya. Kalau tidak motor, barang apa saja yang  lain!”

“Jangan, Ustadz. Saya masih sayang motor ini. Susah lagi belinya. Tabungan juga nggak ada. Emas juga nggak punya.”

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya terus berpikir keras untuk mencari solusinya. Kalau dia hanya memperbaiki shalatnya saja, tapi sedekah tidak dilaksanakan, maka keajaiban akan lama muncul. Demikianlah, menurut ilmu yang saya peroleh. Namun tentu saja, lain cerita ceritanya jika Allah berkehendak lain.

“Pak, kalau saya tunjukkan bahwa sebenarnya Bapak bisa sedekah, bahkan besar jumlah sedekah yang bisa dikeluarkan, Bapak mau percaya, nggak?” ujar saya kemudian.

Si sekuriti mengangguk.

“Oke, kalau sudah saya tunjukkan, mau melaksanakannya?”

Sekuriti ini mengangguk lagi. “Selama saya bisa, saya akan laksanakan,”  katanya mantap.

“Gajian bulan depan masih ada nggak?”

“Masih. Kan belum bisa diambil?”

“Bisa! Dicoba dulu!”

“Nanti bulan depan saya hidup gimana?”

“Yakin nggak sama Allah?”

“Yakin.”

“Nah, kalau yakin, titik. Jangan koma. Jangan pakai kalau.”

Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon guna bersedekah sebisa mungkin. Tapi saya jelaskan kepada sekuriti agar diusahakan menyedekahkan semua gajinya. Hal itu agar jumlah sedekah betul-betul signifikan. Dengan
demikian, perubahan yang akan terjadi juga betul-betul dirasakan. Dia berjanji akan membenahi mati-matian shalatnya. Termasuk dia akan laksanakan semaksimal mungkin shalat taubat, hajat, dhuha, dan tahajjud. Dia juga berjanji untuk rajin mengisi waktu senggang dengan membaca Alquran..

Tampaknya, si sekuriti itu sudah lama tidak berlari kepada Allah. Shalat Jum'at saja menunggu qomat. Wah, susah juga. Keadaan seperti justru ia anggap sebagai sesuatu yang wajar. Hal itu karena tugasnya sebagai sekuriti. Toh, tugas yang dilakukannya ia anggap sebagai ibadah. Itulah barangkali yang telah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi seorang sekuriti sekian tahun. Padahal dia Sarjana Akuntansi! Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantas saja dia merasa bosan dengan posisinya sebagai sekuriti. Tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Tapi demikianlah hidup. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Mungkin yang penting bagi dia saat itu adalah memperoleh pekerjaan dan mendapat gaji.

Bagi saya sendiri, tidak masalah memiliki banyak keinginan. Asal keinginan itu sesuatu yang diperbolehkan dan masih dalam batas-batas wajar. Juga tidak masalah memimpikan sesuatu yang belum tercapai. Asal hal itu dibarengkan dengan peningkatan ibadah kita. Sebagaimana realitas sosial sekarang ini, meskipun harga barang-barang melejit naik, kita tidak perlu khawatir. Ancam saja diri kita sendiri agar mau meningkatkan ibadah-ibadah kita. Jangan malah berleha-leha karena akan membuat hidup kita justru tergilas dengan tingginya harga barang-barang.
***
Sekuriti ini kemudian menemui atasannya guna meminjam uang. Ketika ditanya oleh sang atasan untuk apa, dia hanya nyengir tidak menjawab. Tapi ketika ditanya jumlah yang mau dipinjam, ia pun menjawab, “Semuanya! 1,7 juta. Utuh sejumlah gaji yang biasa diterima.”

“Tidak bisa!” kata komandannya.

“Tolonglah, Pak,” jawab sekuriti memelas, “Saya kan belum pernah kasbon.  Tidak pernah berani. Baru kali ini saya berani.”

Sang komandan terus mengejar alasan si sekuriti berhutang. Akhirnya, ia pun menceritakan pertemuannya dengan saya. Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk bertemu langsung dengan owner SPBU ini. Menurut sang komandan, permohonan bon lewat jalur formal susah dikabulkan. Kalau pun dikabulkan, paling hanya sejumlah 30% dari total jumlah gaji. Itu juga belum tentu bisa dicairkan dalam waktu cepat.

Di luar dugaan, sang owner justru menyetujui permohonan bon si sekuriti. Persetujuan itu juga karena dibantu sang komandan yang ikut merayu.

“Katanya, buat sedekah, Pak,” jelas sang komandan kepada sang big boss.

Subhaanallaah! Semua orang di pom bensin itu mengetahui perubahan yang terjadi. Kisah sang sekuriti yang bertemu dengan saya serta kisah perjuangannya bersama sang komandan untuk meminjam uang, menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan the end story-nya. Termasuk dinanti oleh sang pemilik pom bensin.

“Kita coba lihat, berubah nggak tuh nasib si sekuriti,” begitulah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa ia i ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.

Hari demi hari, sekuriti ini diperhatikan oleh kawan-kawannya. Ia kini rajin sekali shalat. Selalu tepat waktu. Ibadah-ibadah sunah juga lumayan istiqamah. Mengetahui hal itu, sang bos pun senang, sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti tidak mengurangi kedisiplinan kerja. Raut mukanya justru selalu tampak cerah. Keceriaan sang sekuriti itu karena, menurutnya, ia sedang menunggu janji Allah. Dan dia yakin, janji Allah pasti datang. Demikian ia jelaskan kepada teman-temannya yang meledek dirinya. Mereka mau ikut rajin shalat dan sedekah jika ia memang berhasil dengan “eksperimen gila”-nya itu.

Saya tertawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya justru suka tantangan yang demikian. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali Allah akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti. Hal itu agar sang sekuriti benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum memiliki iman. Saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukan si sekuriti.

Suatu hari sang bos berkata, “Kita lihat saja dia. Kalau dia tidak mengambil kasbon, berarti dia berhasil. Tapi kalau dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa menyedekahkan gaji bulan depan, kalau kemudian ia mengambil kasbon lagi. Percuma!”

Tapi subhaanallah! Sampai akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini tidak mengambil kasbon. Berhasilkah? Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini tidak melihat motor besarnya lagi. Jadi, ia tidak mengambil kasbon karena ia masih memiliki uang dari hasil jual motor, bukan dari keajaiban mendekati Allah. Hingga akhirnya ketika sang sekuriti bertemu dengan si boss, ia pun ditanya tentang sesuatu yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya sendiri.

“Benar nih, nggak kasbon? Udah akhir bulan, lho. Yang lain bakal menerima gaji. Sedang gaji Bapak kan sudah diambil bulan kemarin,” kata si boss serius.

Kepada saya, sekuriti ini mengatakan bahwa ia memang sudah siap-siap mau kasbon kalau sampai pertengahan bulan ini tidak ada tanda-tanda keberhasilan. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar membikin orang tercengang! Apa pasal? Hal itu karena ternyata betul-betul terjadi keajaiban setelah ia membenahi shalatnya dan memberikan sedekah dengan jumlah besar yang belum pernah ia lakukan seumur hidup! Mempertaruhkan hidupnya dengan menyedekahkan semua gaji bulan depannya. Semuanya tanpa tersisa!

Keajaiban itu berawal ketika di kampung halaman si sekuriti terjadi transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya tidak terlibat secara fisik. Ia sekedar menjadi mediator lewat SMS ke pembeli dan penjual. Dari transaksi inilah, Allah mengganti sedekah yang ia keluarkan dari gajinya sebesar Rp 1,7 juta menjadi 10 kali lipat. Bahkan lebih!

Allah memberinya karunia berupa komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar Rp 17,5 juta! Dan hal itu terjadi begitu cepat. Kejadian itu terjadi masih dalam bulan yang sama, belum berganti bulan. Sadar betapa besarnya anugerah Allah, akhirnya dia malu sendiri kepada Allah. Motor yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya digunakan untuk sedekah. Uang hasil penjualan motor dia gunakan untuk membiayai keberangkatan haji ibunya, satu-satunya orang tuanya yang masih hidup. Subhaanallaah!

Sayang sekali, uang hasil penjualan motor itu tetap tidak cukup untuk menutupi ongkos haji. Karena dijual cepat, harga motornya tidak sampai Rp 13 juta. Akhirnya, ia tambahkan sendiri sebesar Rp 12 juta yang berasal dari uangnya sendiri yang ia peroleh dari komisi penjualan tanah. Dengan demikian, sang ibu memiliki uang sebesar Rp 25 juta. Jumlah itu sudah cukup untuk daftar naik haji. Tambahan ongkos yang lain berasal dari simpanan ibunya sendiri.

Masih menurut cerita si sekuriti, ia merasa aman dengan uang Rp 5 juta, sisa dari komisi transaksi tanah itu. Dan dia merasa tidak memerlukan motor lagi. Dengan uang ini, ia aman dan tidak perlu kasbon.

Tak ayal, sang bos pun berdecak kagum. Dia lalu kumpulkan semua karyawannya dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini. Apakah cukup sampai di situ perubahan yang terjadi pada diri si sekuriti?

Tidak! Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staf keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya Allah! Berubah, berubah, berubah! Saudara-saudaraku sekalian. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan!

Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini diterapkan olehnya dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya. Subhaanallaah, masya Allah. Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia.

Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar. Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya? Bisakah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta Kuliah Online saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.

Sebagian memilih diam saja, dan sebagian lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja. Hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh.

Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublikasikan, memang tidak gampang buat seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh. Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah ini. Kita lari kencang menuju Allah. Ngebut meraih rahmat-Nya.
 
 
*artikel diambil dari sini

REJEKI TAK PERNAH SALAH ALAMAT

“Tih, kemaren kan hari Kamis, Tih. Nah, abis kamis hari apa, Tih?” tanyaku pada Fatih Zuhdi, tiga tahunku yang selalu setia di samping kiriku kala aku mengemudi.

“Jumat,” katanya bangga karena bisa menjawab. Tentu saja dia tahu jawabnya setelah spontan menyanyikan lagu “Nama-nama Hari”  dengan suaranya yang bening nan nyaring itu :).

 “Jumat berarti hari nasi buuuung...?” tanyaku lagi.

“KUUUUS!” jawab Fatih dan Hani penuh semangat.

Tiap hari Jumat, aku dan anak-anak biasanya membeli sebungkus nasi berlauk pauk istimewa untuk dihadiahkan pada seseorang. Sama sekali bukan bermaksud membatasi infak hanya hari Jumat, atau memberi hanya sebatas sebungkus nasi saja, tentu. Aku hanya ingin membiasakan anak-anak belajar beramal yang sederhana, tapi rutin dan langgeng, insya Allah.

Oya, paginya, bada Sholat Dhuha pun anak-anak kupangku dan kuajari berdoa, “Ya Allah, jadikan kami jalan rejeki untuk hambaMu yang lain.” Doa yang langsung diaminkan Fatih sambil berkomat-kamit menengadahkan tangan. Hehe, sebelumnya kami sudah minta rejeki sama Allah untuk kami sendiri;).

“Bilang sama Allah ya Tih,” kataku sambil melirik Fatih geli. Soalnya gaya berdoanya serius sekali sih. “Rejeki buat ambu yang banyaaaak ya Allah, dan barokaaah. Amin, amin, amiiin.” Dan langsung ditirukannya doaku kata demi kata. Hani, sudah sedari tadi melompat dari pangkuanku, hehe. Kudengar suaranya bermain di halaman.

Jadilah siang itu kami bertiga menuju rumah makan BUNUT asli SUKABUMI. Lauk pauknya prasmanan, aneka ragam menggiurkan lidah. Kami pilih lauk yang serba enak, supaya ketika sang penerima membuka bungkusan nasi itu, selera makannya langsung berkobar, hehe.

Nah, kali ini, kepada siapa nasi bungkus lezat ini kami berikan ya?

“Hani, Fatih, kalau melihat orang yang kira-kira sedang lapar, tolong kasih tahu Ambu ya?”. Aku sebetulnya hanya bercanda, bagaimana bisa tahu seseorang itu lapar atau tidak dengan hanya melihatnya dari dalam mobil? Biasanya kami memberikan nasi itu pada pemulung, bapak penarik gerobak sampah, dan lain sebagainya.

“Itu Mbu, kakak-kakak pada lapar,” kata Fatih sambil menuju beberapa anak berseragam SMA yang sedang membeli bakso.

Kulirik Fatih sambil nyengir.. “Kakak-kakak kan pada laper, makanya beli bakso,” katanya Fatih lagi.

 “Ye, Fatih, maksud Ambu bukan itu kaleee, hehe...”

****

Waktu terus berlalu, kami belum menemukan seseorang yang sekiranya akan senang menerima nasi bungkus dari anak-anakku. Padahal hari semakin siang, aku harus pulang untuk sholat Zuhur.

“Nak, nanti saja ya kita putar-putar lagi. Sekarang pulang dulu, Ambu harus sholat.” Hani dan Fatih sebenarnya agak kecewa. Tapi bagaimana lagi. Aku jadi teringat kata-kata teman fb-ku vienna alifa yang bermukim di Australia. Menurutnya, di sana susah bersedekah karena semua orang tak mampu jadi tanggungan negara. “Hmm, sebetulnya kami yang lebih butuh mereka ya Rabb, bukan hanya kaum papa yang membutuhkan kami,” bisik hatiku.

Usai sholat. Hujan mengguyur tanah Bogor dengan derasnya. “Sabar ya Han, Tiih... hujan lebat begini, mana mungkin ada orang di jalan.. buat dikasih makan siang sama hani dan fatih? Ya kan?”. Hmm,  Alhamdulillah lauk yang kubeli tadi hanya yang kering-kering, insya Allah sampai sore nanti kondisinya masih bagus.

Anak-anak mengangguk.

Sore tiba. Aku harus pergi menengok proyek renovasi rumah yang sedang dalam tanggung jawabku. Anak-anak tidak ikut. Sore hari kalau tidak hujan, Hani Fatih selalu asyik bermain sepeda bersama anak-anak tetangga.

Jalanan masih sepi usai hujan deras. Sebungkus nasi tak bertuan masih tergeletak di jok depan mobil.

Aku sudah sampai. Kulihat seorang nenek, seorang ibu muda dan seorang anak kecil, ketiganya berwajah bahagia, terbungkuk-bungkuk mengumpulkan papan-papan bekas cor di depan rumah yang sedang kurenovasi.

Dari balik mobil mataku meneropong mereka. Sang nenek mengikat papan-papan bekas itu dengan tali. Kumatikan mesin, melangkah ke arah mereka bertiga.

“Nek, kayunya buat apa?” tanyaku padanya.

Beliau mendongak. Mata nan bahagia itu menatapku. “Buat masak neng, kayu-kayu ini buat masak. Ibu ngga punya kompor.”

Allah, sebuah rumah di perumahan ini bernilai minimal 350 jutaan dan di dekat sini masih ada sebuah keluarga yang memasak dengan kayu bakar? Ampuni hamba, Rabbi.

Kuambil uang dari dompet. Kuraih tangannya, “Ini buat Nenek, ya.” Lalu kupegang juga tangan sang ibu muda disampingnya, “Mbak juga dapat,” kataku padanya, “Ini buat Mbak, diterima yaa..”

Tapi, hmm... kutatap anak kecil di samping ibu muda tersebut. “Untuk adek, apa ya?” kataku padanya sambil tersenyum dan memutar otak. Dia menatapku harap-harap cemas.

Mataku berkejap, air bening berdesakan ingin keluar. Allah, sebungkus nasi berlauk istimewa yang sedari tadi siang belum bertuan... tentu saja adik manis inilah pemiliknya!

Bergegas kuambil bungkusan itu di mobil dan kuberikan padanya. Barakallah.Barakallah.Barakallah.

Setiap rejeki dariNya tak akan salah alamat, bahkan sebutir nasi pun sudah tercatat akan menjadi rejeki hambaNya yang mana.

Tapi, bukankah keluarga tadi menjemput rejeki dariNya ketika mereka sedang mengumpulkan kayu? Akankah kami bertemu jika mereka hanya berleha-leha di rumah saja?

Sahabat, mari kita menjemput rejeki. Mari bergerak, bekerja keras, bekerja cerdas, dengan hati yang tetap tenang, ridho dan ikhlas. Yakinlah, rejeki kita tidak akan saling tertukar.

Rabbi, berikan kami rejeki yang halal dan barokah, yang menjadikan keluarga kami sakiinah, yang menjadikan anak-anak kami sehat dan sholih. Rabbi, mudahkan kami menjadi jalan rejekiMu, bagi hambaMu yang membutuhkan. Amin. Amin ya Rabbal Aalamiin.


Salaam,
Galuh Chrysanti.





*share dr notes fb Galuh Chrysanti 
dikirim oleh sahabat Dian Rahayu Nugraheni
Pelaksana pada Sekretariat Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan

Surat dari Saudaramu Sesama Muslim

Assalamu’alaikum..
Afwan sebelum dan sesudahnya.
Saya ingin... sekali mencurahkan perasaan hati saya.
Saya ini sedang dalam keadaan futur!
Terbukti dengan ogah-ogahan datang ke halaqah tiap pekan dengan alasan klasik: tugaslah, lelahlah, kerjalah, cuci bajulah, sibuklah, inilah, itulah….
Saya ini sedang futur!
Jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca Koran, dulu tilawah tidak pernah ketinggalan, sekarang satu lembar pun sudah lumayan, tilawah sudah tidak berkesan, nonton “Dangdut Mania Dadakan” pun ketagihan….
Saya ini sedang futur!
Mulai malas sholat malam, jarang bertafakkur ba’da shubuh, kanan kiri salam, lantas kembali mendengkur apalagi waktu libur, sampai waktu menjelang zuhur….
Saya ini sedang futur!
Lihat perut semakin buncit, karena junkfood dan pangsit, kalo infaq mulai sedikit dan mulai pelit. Apalagi kalau shaum sunnah, perut rasanya ogah….
Saya ini sedang futur!
Tidak lagi pandai bersyukur, senang disanjung, sedikit dikritik saya pun jadi murung….
Saya ini sedang futur!
Malas ngurusin da’wah, rajin bikin orang tua marah, sedikit sekali muhasabah, sering kali meng-ghibah.
Ya… Saya memang sedang futur.
Mengapa saya futur….??? Mengapa tidak ada satu ikhwah pun yang menegur dan menghibur?? Kenapa batas-batas mulai mengendur?? Kepura-puraan, basa-basi, dan kekakuan, mulai subur?? Kenapa di antara kita sudah tidak jujur?? Kenapa ukhuwah di antara kita sudah mulai luntur?? Kenapa di antara kita hanya pandai bertutur??
Ya Allah…. Berikanlah hamba-Mu ini pelipur, agar saya tidak semakin futur, apalagi sampai tersungkur.
Kamu tahu saya lagi futur, sedikit zikir, kebanyakan tidur, belajar ngawur, nilai UTS dan UAS-pun hancur, shohib-shohib kagak ada yang negur.
Kamu tahu saya lagi futur, hati beku, otak ngelantur, mikirin orang se-dulur, diri sendiri kagak pernah ngukur.
Kamu tahu saya sekarang senang duduk di kursi goyang, perut kenyang, hati melayang, mulut sibuk ngomongin orang, aib sendiri nggak kebayang.
Kamu tahu saya bengal bangun malam, sering ditinggal otak bebal, banyak mengkhayal, sudah lupa yang namanya ajal.
Kamu tahu saya begini sudah sok tauw! Senang dipuji, ngomong sok suci kayak murabbi, sudah kagak ngaca diri sendiri.
Kamu tahu saya gegabah, petantang-petenteng merasa gagah, diri ngaku-ngaku ikhwah, kalau mau muhasabah… diri ini kagak ada beda sama sampah!!!
Kamu tahu saya sekarang sudah kalah di medan perang. Ana ingin pulang kandang, ke tempat ana dahulu datang hikmah.
“Buat semua Saudaraku…. Kunjungilah saudaramu. Tengoklah dia barang sebentar… saja. Mungkin keimanannya sedang berada di ujung tanduk, mungkin keimanannya sedang dipertaruhkan…. Raihlah dia… Rengkuhlah dia. Ajaklah dia bersama melihat terbitnya fajar kebangkitan Islam!!! Ajaklah dia bersama menuju cinta-Nya, menuju surga-Nya, menuju ampunan-Nya. Janganlah sibuk dengan dirimu sendiri. Pedulilah dengan sekelilingmu. Pedulilah dengan mereka yang mengharap datangnya secercah cahaya. Dan jadilah kamu orang yang bermanfaat, untuk orang-orang di sekitarmu.”

Wassalamu’alaikum.
Salam ukhuwah.

                                                                                                                                               Hormat saya,
                                                                                                                                                          ttd.
                                                                                                                                                Hamba Allah



*kiriman artikel dari sahabat Ahmad Hidayat
staf Biro PKPSR, Bapepam-LK



Keajaiban Sedekah Pada Anak Yatim











Pada tanggal 7 desember 2008, saya mengikuti ujian cpns kabupaten batang. Pada saat itu saya sedang menderita sakit fisik maupun sakit batin..sakit fisik karena saya sedang berada di puncak flu berat, sakit batin karena saya baru saja tertekan karena gagal dalam wawancara departemen kelautan dan perikanan di sidoarjo...........
sore hari pada h-1 sebelum hari ujian, saya sudah berada di tempat ujian, selain untuk memeriksa ruang ujian, sekalian saya menginap di masjid kompleks ujian di SMK Nusantara Batang......... ternyata kompleks SMK Batang merupakan kompleks pendidikan yang menyatu dengan asrama yatim piatu......... agak kikuk juga sich waktu pertama kali sholat maghrib dan isya di sana...........habis penampilanku kayak orang udik...............hihihi...........

waktu terus berlalu dan kemudian tibalah saatnya untuk mencoba memejamkan mata......sambil membunuh kesepian dengan sms-an dengan gadis pujaan..........hehehe...kebetulan waktu itu malam minggu dan saya sendirian menginap di masjid tersebut........karena peserta yang lain pada membooking hotel di pekalongan sampai kabarnya hotel/penginapan2 di sana penuh......tapi tidak apa-apa, sudah saya tekati (bertekad) dari rumah bahwa sebelum berhasil memang harus laku prihatin (bersusah payah) dulu...................

kemudian pada sekitar jam sembilan ada ibu beserta beberapa orang anak wanita menghampiri saya dan menyapa sambil membuka kunci masjid supaya saya tidur di dalam saja.....................di luar dingin katanya.............subhanallah...................ibu ini sama sekali tidak menaruh curiga pada saya (nggak seperti kebanyakan orang jaman sekarang yang curigaan). akhirnya saya pun memindahkan tas bawaan saya ke dalam.........dan kemudian mengobrol dengan seorang anak laki-laki yang kerap menginap di masjid tersebut, tak lupa, Bapak takmir masjid tersebut- saya lupa namanya- Bapak dari seorang pengusaha catering besar di Batang (semoga cateringnya makin laris ya.............) menghampiri dan menyapa saya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul.
Dari obrolan itulah baru saya ketahui bahwa kompleks SMK Nusantara tersebut menjadi satu dengan asrama anak yatim....................................subhanallah......ternyata mereka pengertian sama saya dengan membukakan pintu masjid dan menyuruh saya masuk ke dalam masjid dan menyuruh tidur di dalam.........................semoga Allah merahmati mereka. coba kalo saya menginap di kompleks perumahan orang borju, dah pasti saya diusir..............hehehe....
singkat cerita selangkah kemudian saya mencoba memejamkan mata di dalam masjid,tapi tidak bisa karena saya justru sedang mengalami puncak flu berat yang saya alami.............hidung saya meler...........bersin keras...........dsb. saya sudah pasrah dengan ujian saya esok dengan kondisi yang kurang memungkinkan tersebut. sampai pada suatu pagi, saya mencoba sedikit mencari udara segar pagi hari setelah subuh sambil cari makan, tetapi makanan tersebut bukan untuk saya.........tapi saya bungkus untuk saya berikan pada anak yatim di sana.......
singkat cerita kemudian, saya berterimakasih dengan bapak takmir masjid tersebut , sambil menyerahkan amplop 20 ribu kepada bapak takmir tersebut......untuk kesejahteraan masjid saya bilang..........tapi bapak tersebut menolaknya.......saya tetap bersikeras dan memaksa bapak tersebut untuk menerima uangnya.........bukan untuk bapak tersebut, melainkan untuk kesejahteraan masjid (bapak tersebut udah kaya kok..............orderan cateringnya udah menguasai kota pekalongan segala......hehehe). Akhirnya Bapak tersebut bilang ke saya: " berikan saja uangnya kepada anak-anak yatim itu...............pasti barokah". saya tambah semangat, lha wong mereka anak yatim, kekasih Allah, dan saya mempercayai betul ucapan bapak tadi. Dengan semangat 45 saya berikan saja nasi bungkus dan uang 20 ribu tadi kepada anak yatim tersebut.
cerita berikutnya berlanjut ke ujian.........
saat ujian saya betul2 tersiksa dengan kondisi tubuh saya yang masih mengalami flu berat tersebut..........selama di ruang ujian, saya selalu slendap-slendup (nggak tau bahasa betawinya akh.........., keseringan baca the jakarta post sih, jadi kurang bisa mengartikan ke bahasa gaul hehehe...) karena hidung saya terus meler. akhirnya saya tidak bisa mengerjakan soal dengan maksimal. berikut persentasinya:
1. Mengerjakan soal dengan yakin = sekitar 15-20 persen
2. Mengerjakan soal dengan setengah yakin=60 persen
3. Mengerjakan soal dengan sangat nggak yakin= 10 persen.
4. mengerjakan soal dengan awur-awuran (sama sekali hanya menebak) = 15 persen.
akhirnya saya hanya pasrahkan saja hasilnya.............Pikiran rasional saya mengatakan bahwa peluang saya kecil sekali.
cerita berikutnya...........
teman saya yang baru saja berhasil lolos seleksi cpns di depkeu mengajak saya untuk bersenang-senang merayakan kelolosannya dengan menginap di hotel berbintang di kawasan malioboro yogya...........tapi saya tolak, karena jelas nggak barokah.......sebagai gantinya saya mengusulkan agar membagi sedekah saja kepada kalangan nggak mampu. Kemudian kami sepakat dan beberapa hari kemudian kami meluncur ke kawasan kota lama Semarang untuk membagikan nasi bungkus kepada para tukang becak disana...............dan masya Allah.......inilah realita kemiskinan yang selama ini tidak pernah saya lihat, banyak kakek-kakek yang masih menjajakan tenaganya menarik becak untuk mencari sesuap nasi...........di tengah guyuran hujan dan genangan banjir..............masya Allah.........selama ini saya hanya bisa bersenang-senang dan buta terhadap masalah ini......kalaupun saya mendengar kemiskinan yang amat sangat, itu hanya saya saksikan di TV dan Koran, lha wong kenyataannya penjualan motor di negara kita naik terus, dan motor teman saya selalu baru-baru.
Pada waktu itulah dibukakan mata saya bahwa kemiskinan dan kesenjangan tidak hanya ada di TV, tapi betul2 di depan mata kita..............di sekeliling kita...............saudaraku.

Pada sekitar tanggal 28 desember, saya melamun di tangga pintu utama masjid baiturahman semarang.................memikirkan jodoh dan pekerjaan..........saat itulah saya didatangi dua pengemis cilik......langsung saja mereka berdua saya beri masing-masing Rp.500, pengemis kedua, gadis kecil lalu bilang ke saya kalau dia mendoakan saya supaya saya dapat rejeki banyak..............langsung saja saya terloncat kegirangan...........karena saya baru saja membayangkan dapat istri cantik. Ah, siapa tahu habis ini saya dapet jodo cantik................dan kemudian...................

Seiring waktu berlalu tanggal 31 Desember pagi kakak saya menelepon, dan katanya saya masuk dan ketrima. Langsung saja saya berteriak alhamdulillah........histeris........dan langsung meluncur membeli Jawa Pos terbitan hari itu yang dijual agak mahal karena ada info pengumuman seleksi pengadaan CPNS. Segera saja saya membuka halaman pengumuman Pengadaan CPNS Kabupaten Batang tahun 2008 untuk formasi arsiparis, nomor 2, dengan nama BAGUS PRIYATMOKO. Alhamdulillah.............ya Allah.

ya Rob...............terimakasih beribu-ribu kali hanya untukmu........................dan maafkan hambamu bila selama ini selalu berprasangka buruk terhadapmu...........................................................................Rob...............terimakasih beribu-ribu kali hanya untukmu........................dan maafkan hambamu bila selama ini selalu berprasangka buruk terhadapmu........................................................................... 
 
 
copas dari sini